Saturday, August 3, 2019

Penyelenggaraan Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta bersifat sakral.



Upacara labuhan adalah satu diantaranya upacara etika yang mulai sejak era kerajaan Mataram Islam pada masa ke XIII sampai saat ini masih dipertunjukkan dengan teratur serta masih punya pengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat di Provinsi Wilayah Spesial Yogyakarta. Warga yakin kalau dengan upacara labuhan lewat cara tradisionil akan terbina keselamatan, ketentraman serta kesejahteraan warga serta negara. Meskipun yang mengadakan upacara labuhan yakni keraton, tetapi dalam pengerjaannya di lapangan, rakyat pun ikut serta. Warga merasakan turut mempunyai upacara etika itu serta memandang upacara labuhan yakni satu keperluan tradisionil yang butuh dilestarikan.

Satu diantaranya upacara kraton yang dikerjakan oleh beberapa Sultan se¬jak Sultan Hamengkubuwono I yakni upacara etika yang dalam isti¬lah Jawa dimaksud labuhan. Upacara ini rata-rata dikerjakan di em¬pat tempat yang terletak berjauhan. Semasing tempat itu memiliki latar riwayat tertentu hingga pada. semasing tempat itu butuh serta wajar dikerjakan upacara labuhan

Tempat yang pertama yaitu Dlepih, dimaksud pun Dlepih Kahyangan, terdapat di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.
Tempat yang ke dua yakni Parangtritis, di sisi selatan kota Yogyakarta, di pinggir Lautan Indonesia (Laut Selatan).
Tempat yang ke-tiga yaitu di Pucuk Gunung Lawu, di tepian Surakarta serta Madiun, yang batasi wilayah Jawa Tengah serta dae¬rah Jawa Timur.
Tempat yang ke-4 yakni di Pucuk Gunung Merapi, letak¬nya terhitung daerah Sleman, Provinsi Wilayah Spesial Yogyakarta.
Upacara labuhan itu adalah pemberian atau persembahan (pisungsung-Jw) yang dikerjakan di beberapa tempat spesifik, sama dengan keyakinan kalau dalam tempat itu sudah pernah berlangsung momen penting yang terkait dengan beberapa leluhur raja

Upacara pemberian atau persembahan yang disangkutkan dengan beberapa leluhur serta makhluk-makhluk halus itu jelas adalah kultus leluhur, animisme serta dinamisme. Pada prakteknya lantas upacara itu digabungkan dengan beberapa unsur agama Islam, yakni dengan dibarengi doa serta selawat. Ada mantera-mantera yang disampaikan dalam bahasa Arab serta menurut beberapa aturan yang berlaku. Ada juga yang dibacakan dengan perkataan yang bersatu baur di antara bahasa Jawa serta Arab.

Upacara labuhan yang berbentuk religius ini cuma bisa dikerjakan atas titah dan atas nama raja jadi kepala kerajaan, kepala pemerintahan serta pemangku etika keraton. Tahap-tahap persiapan yang dikerjakan dalam kraton, semua sesuatunya cuma diselesaikan oleh beberapa sanak keluarga saja, dibantu oleh beberapa punggawa kraton. Pada realisasi di luar kraton hingga sampai ditempat-tempat upacara labuhan, mesti dengan tata trik protokoler yang ketat. Juru kunci yakni pelaksana yang lakukan tindakan atas nama raja. Dia pun yakni punggawa kraton yang diambil dari kelompok rakyat ditempat. Juru kunci dikasih hak buat mempunyai beberapa benda yang udah tuntas dilabuh, tatapi seringkah pun beberapa benda itu diperebutkan oleh beberapa pembantu juru kunci itu.

Menurut kebiasaan Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara labuhan dikerjakan lewat cara sah dalam rencana peristiwa-peristiwa sebagaimana berikut:

Penetapan Sultan;
Peringatan hari Kembali Tahun Penetapan Sultan yang dimaksud “Tingalan Panjenengan” atau “Tingalan Dalam Panjenengan” atau “Tingalan Jumenengan”;
Peringatan hari “windo” hari ulang tahun penetapan Sultan. “Windon” bermakna tiap delapan tahun.
Tidak hanya dari ke-tiga rangka momen di atas, upacara labuhan juga bisa dipertunjukkan buat penuhi hajat spesifik dari Sri Sultan, contohnya kalau Sri Sultan menikahkan putera-puterinya.

Beberapa waktu saat realisasi upacara labuhan, Sri Sultan menyerahkan guntingan-guntingan kuku serta guntingan-guntingan rambut buat ditanam di beberapa tempat spesifik di pantai Parangtritis. Pakaian-pakaian sisa Sri Sultan mesti ditanam dalam tempat itu.
Beberapa benda serta beberapa bahan lain yang disiapkan buat: kemenyan, bahan kosmetika tradisionil, ‘konyoh’ parfum, rokok klobot wangi, tikar, nampi, bubuk dupa (cupu), pundi-pundi (kampek), mata uang serta sejumlah tempat teristimewa buat parfum, atau bubuk dupa. Tidak hanya beberapa benda ini masih banyak benda kelengkapan lain yang bersama persiapan satu upacara labuhan, seperti beberapa benda sesaji serta pusaka-pusaka kraton.

Wajar kalau upacara tradisionil yang langka ini banyak menarik animo turis buat menyaksikannya. Situasi khidmat upacara, keberanian beberapa pembantu juru kunci melakukan labuhan di lautan dan keramaian warga merebutkan beberapa benda labuhan, bertambah bikin acara labuhan berubah menjadi menarik ditonton.
Upacara labuhan bukan saja udah penuhi ketetapan kebiasaan yang dijunjung tinggi, namun sekalian adalah object wisata yang benar-benar dikagumi oleh beberapa turis

No comments:

Post a Comment