Thursday, August 1, 2019

Tradisi Apeman di Keraton Yogyakarta simbol ungkapan syukur




da banyak adat serta upacara tradisi yang dapat kita temui dari Keraton Yogyakarta. Satu diantara yang paling popular serta ditunggu ialah Grebeg Sekaten atau Grebeg Muludan yang umumnya diselenggarakan pada Maulid Nabi Muhammad SAW.
Saat itu, gunungan berisi kue, makanan, sayuran, serta buah-buahan yang telah didoakan akan ditandu keluar Keraton serta diperebutkan oleh warga yang memadati alun-alun.

Adat yang lain barusan berjalan  kemarin. Untuk memperingati hari naik tahta Sultan Hamengkubuwono X, Keraton Yogyakarta lakukan adat apeman. Melalui adat membuat kue apem ini, Keraton memperingatin tahun ke-26 Sultan Hamengkubuwono X jadi raja Yogyakarta.

Kue Apem dalam acara itu jadi lambang pernyataan sukur sekaligus juga permintaan ampunan atas semua kekeliruan. Yang membuat adat apeman tahun ini menarik sebab Sultan HB X barusan keluarkan sabda raja pada 5 Mei kemarin.
Melalui sabda itu, Sultan HB X ganti gelarnya dari ˜buwonoâ jadi ˜bawono˜kaping sedoso  yang ke-10 jadi ˜kasepuluh (ke-10), serta ˜kalifatullah sayudina jadi langgeng ing toto panoto gomo berlanjutnya tatanan agama Allah di jagad

Diluar itu, Sultan HB X memutuskan anak perempuannya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun jadi GKR Mangkubumi.
Sultan HB X belum menjawab apa perubahan gelar anaknya ini bermakna ia yang bisa menjadi putri mahkota serta substitusinya nantinya. Tetapi, melalui adat apeman yang berjalan  GKR Mangkubumi kelihatan membuat kue apem.

No comments:

Post a Comment